Iklan

Media Sosial sebagai Sarana Distribusi dalam Proses Belajar Mahasiswa di Indonesia

Xpos Berita
Minggu, 04 Januari 2026, 18.39 WIB Last Updated 2026-01-04T11:39:51Z

 


Dharmasraya, -- Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Salah satu perubahan paling signifikan adalah meningkatnya peran media sosial dalam proses belajar mahasiswa.


Media sosial yang awalnya hanya digunakan sebagai sarana hiburan dan komunikasi kini bertransformasi menjadi media distribusi informasi dan pembelajaran yang cukup efektif. Platform seperti WhatsApp, Instagram, YouTube, Telegram, hingga X (Twitter) mulai dimanfaatkan sebagai pendukung kegiatan akademik di perguruan tinggi.


Media sosial memiliki karakteristik utama berupa kecepatan, kemudahan akses, dan jangkauan yang luas. Bagi mahasiswa Indonesia, media sosial menjadi sarana praktis untuk menerima dan menyebarkan materi perkuliahan.


Grup WhatsApp atau Telegram, misalnya, sering digunakan dosen dan mahasiswa untuk membagikan modul, artikel jurnal, pengumuman akademik, serta jadwal perkuliahan. Hal ini memudahkan distribusi informasi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pertemuan tatap muka atau sistem pembelajaran formal yang terkadang memiliki keterbatasan teknis.


Selain itu, media sosial juga mendukung gaya belajar mahasiswa yang semakin beragam. Mahasiswa tidak hanya bergantung pada buku teks atau materi dari dosen, tetapi dapat mengakses video pembelajaran di YouTube, infografis di Instagram, atau diskusi ilmiah di platform daring lainnya.


Konten visual dan audio yang disajikan melalui media sosial dinilai lebih menarik dan mudah dipahami. Di sisi lain, media sosial juga mendorong terciptanya pembelajaran yang lebih interaktif dan kolaboratif.


Mahasiswa dapat berdiskusi, bertukar pendapat, serta memberikan tanggapan secara real-time tanpa dibatasi ruang dan waktu. Forum diskusi berbasis media sosial membantu mahasiswa yang kurang aktif di kelas untuk tetap menyampaikan gagasan.


Namun, peran media sosial dalam proses belajar tidak terlepas dari berbagai tantangan, seperti distraksi dan penyebaran informasi yang tidak terverifikasi. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki literasi digital agar mampu menyaring informasi secara kritis.


Dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia, pemanfaatan media sosial seharusnya tidak menggantikan sistem pembelajaran formal, melainkan melengkapinya. Dengan pengelolaan yang bijak, media sosial dapat menjadi sarana distribusi pembelajaran yang efektif dan relevan.


Kesimpulannya, media sosial memiliki potensi besar sebagai sarana distribusi dalam proses belajar mahasiswa di Indonesia. Pemanfaatan yang bertanggung jawab akan mendukung terciptanya pembelajaran yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan. (AS)


Oleh: Adisa Putri

Mahasiswa Prodi S-1 Kebidanan FIKES UNDHARI

Komentar

Tampilkan

Terkini