Iklan

Diduga Limbah Pekat Industri Cemari Drainase dan Kali Bedeng di Ciruas, Warga Desak Sanksi Tegas

Xpos Berita
Senin, 19 Januari 2026, 19.03 WIB Last Updated 2026-01-19T12:03:57Z

 




SERANG — Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kota dan Kabupaten Serang dalam beberapa hari terakhir memicu luapan air di sejumlah titik permukiman. Salah satu lokasi yang menjadi sorotan berada di sepanjang Jalan Raya Jakarta–Serang, tepatnya di Desa Kaserangan, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Banten.


Pantauan tim media pada Kamis (15/01/2026) menunjukkan saluran drainase di kawasan tersebut meluap hingga ke badan jalan. Namun yang mengkhawatirkan, air yang mengalir di drainase tampak berwarna hitam pekat dan diduga mengandung limbah berbahaya dari aktivitas industri dan pergudangan di sekitar lokasi.


Dugaan pencemaran ini mengarah pada buruknya sistem pengelolaan saluran air limbah sejumlah perusahaan, yang dinilai tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah (Perda) terkait lingkungan hidup.


Aliran air hitam pekat tersebut terlihat berasal dari sisi seberang jalan nasional yang diduga tidak memiliki drainase memadai atau telah tertutup tanah.


Salah satu sumber dugaan mengarah ke PT Sembada Cool, yang disebut memiliki area penampungan material batubara. Air berwarna hitam pekat tersebut tampak mengalir ke drainase umum dan berada persis di depan area PT Murni Mapan Mandiri.


Di sisi lain, warga sekitar menilai aliran limbah tersebut berasal dari kawasan PT Murni Mapan Mandiri karena jalur drainase berada di dalam area perusahaan tersebut. Namun pihak PT Murni Mapan Mandiri membantah tudingan itu dan menyebutkan bahwa mereka justru terdampak luapan air dari PT Sembada Cool.


“Air itu bercampur abu batubara, warnanya hitam pekat. Saat hujan sangat terlihat, dan saat kemarau debunya masuk ke lingkungan pabrik kami,” ujar salah satu staf PT Murni Mapan Mandiri berinisial RUS, Sabtu (17/01/2026). kepada wartawan. 


Staf tersebut menegaskan bahwa pihaknya telah berulang kali mengomunikasikan persoalan ini kepada PT Sembada Cool, namun hingga kini belum ada solusi konkret, terutama saat musim hujan.




Sementara itu, kekhawatiran mendalam disampaikan warga Desa Kaserangan. Mereka menilai luapan air limbah berwarna pekat tersebut berpotensi mengalir ke permukiman, persawahan, hingga mencemari Kali Bedeng, yang menjadi aliran utama di wilayah tersebut.

Warga juga mengaku mengalami dampak langsung, di mana air limbah tersebut menimbulkan rasa gatal dan panas saat bersentuhan dengan kulit.


“Kami meminta kepada Bupati Serang dan dinas terkait agar turun langsung ke lokasi. Jika benar ada pelanggaran, kami mohon diberikan sanksi seberat-beratnya kepada perusahaan yang bertanggung jawab,” ujar salah satu warga Kaserangan kepada media, Minggu (18/01/2026).


Informasi yang dihimpun dari sumber di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang menyebutkan bahwa PT Sembada Cool awalnya memiliki lahan seluas 1,6 hektare, namun kini berkembang menjadi sekitar 3,6 hektare. Dengan adanya penambahan lahan tersebut, perusahaan seharusnya melakukan perubahan dokumen lingkungan, termasuk rincian teknis (rintek) limbah B3 dan Persetujuan Lingkungan (Perlin).


“Kesimpulan sementara, bak penampungan limbah PT Sembada Cool diduga sudah tidak sesuai dengan luas lahan saat ini,” ungkap salah satu pejabat DLH Kabupaten Serang.



Hingga berita ini diterbitkan, PT Sembada Cool dan PT Murni Mapan Mandiri belum memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan pencemaran tersebut. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

(Red)

Komentar

Tampilkan

Terkini